Sastra/puisi

Menanti Purnama _JP

Sekuat tangan mengengam ,setegar hati menahan ,rasa ingin memiliki tentang yang di nanti adalah penantian yang tidak mudah, masa depan untuk bersama sekan jauh di telan waktu, siapa yang enggan dengan hati , jika mimpi saja tak pernah memiliki mu untuh tanpa kurang, 

bagai perawan yang menunggu sang pujangga , sebuah asa tak lagi menatap senja , tubuh terlalu lelah menelan waktu yang semangkin kabur meraub udara yang jauh di sebrang kota , 

datang lah wahai enggau yang ku sebut purnama, bawakan ku pengntin pria dengan kereta panjang dalam perjalnan tak peduli seribu tahun lama nya , 

bahkan anak burung berporak porada menertawa kan derita ku yang kian brdarah-darah , aku ta peduli …

atau bumi berhenti berputar ,daun kering jatuh berguguran ,jiwa ku terlalu batu , enggan punah jika itu tentang mu 

tentang asa yang ku nanti,tentang pujaan hati,tentang purnama yang tak pernah kembali, aku tetap menunggu 

seraya angin bersorak hembus kan udara yang seolah berkata , wahai perempuan menjauh lah waktu tak akan kembali ,purnama telah pergi ,beranjak lah dunia akan mengenal kan mu,dengan para pujangga lain nya bahagia lah ……

Aku tuli bahkan membisu ,meski ikatan rambut ku berubah putih ,tulang ku rapuh ditela usia,kaki ku lumpuh bersama jutaan sendi , ..aku tetap tak peduli

waktu memang tak kebali ,sang purnama telah pergi , tapi ada bagian dalam tubuh yang tak bisa ku isi,meski jutaan pujangga mengetuk dengn sajak cinta ,atau puluhan jutawan memandikan tubuh dengan permara .. aku juga tak peduli 

riuh udara lelah menepis ku dengan menunggu, hingga datang nya purnama bersama senja, tak kalah purnama pun berkata 

Wahai perempuan angin benar , bahagia lah ,aku tak akan kebali kini ku bersama senja di pelabuhan kota 

mata ku berbinar tetapi nadi ku menetes kan darah kental ,entah bahagia melihat purnama kembali atau terluka karna purnama bukan miliku lagi 

ingin menyerah , tapi darah di nadi tak henti -henti berderai , wahai purnama apa yang terjadi aku ikhlas kau bersama senja aku rela kau bahagia , tapi lihat lah aku bagaimana dengan darah ku ,luka ku derita ku bahkan penantian panjang ku ,secerah itu kah senja hingga kau tak peduli kan darah 

purnama tak bisa bersuara , hilang bersama senja , permpuan masih duduk di belahan dunia yang hanya fatamorgana , angin meragkul udara ,kini permpuan tak sendiri perjalnan nya pulang bertemu pengati ,walau melangkah dengan iringan jerit hati

walau udara berporak porada ,karna perempuan pun tak sendiri  , tapi tak bisa dusta dengan hati ,pengganti tak bisa menghapus sepi ,menghapus mimpi 

perempuan lelah tubuh nya goyah ,percaya diri nya punah ,sumpah dalam penantian panjang tak jua datang 

perempuan mencinta dalam diam mnungu dalam malam,berdoa dalam sepi ,sampai akhir nya permpuan menua hingga mati 

bogor 2007-2017-die 

#MenatiPurnama #sajak #puisi #sastra #kenangan #tentangasa #juliapanjul.menulis #JP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s